Cari Blog Ini

Rabu, 22 September 2010

BIOMOLEKULER VIRUS DENGUE

Andi Cahyadi

Virus Dengue (DEN) tergolong virus RNA anggota dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae, sangat patogen pada manusia dan cepat menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus terutama di negara tropis (Soetjipto dkk., 2000). Virus Dengue diklasifikasikan menjadi empat serotipe (DEN 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4) dengan manifestasi klinik yang sangat bervariasi (Soegijanto, 1997).
Flavivirus berbentuk sferis dengan diameter 40-60 nm. Nukleokapsid berbentuk sferis dengan diameter 30 nm dan dikelilingi oleh lipid bilayer (Rice, 1996). Komposisi virion terdiri dari 6% RNA, 66% protein, 9% karbohidrat, dan 17% lipid. Protein envelope (E) dan protein membran (M) menempel dalam lapisan lipid pada C-terminal yang hidrofobik (Teo and Wright, 1997). Virion yang dikeluarkan mengandung sejumlah M prekursor (pr-M). Komposisi nukleokapsid adalah protein kapsid (protein C) dan genom dengan densitas 1,30-1,31 g/ml, bahan-bahan ini dapat diisolasi setelah envelope disolubilisasi dengan deterjen nonionik (Kitayapon, 1994). Morfologi virus Dengue untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.


Gambar 1. Morfologi Virus Dengue

Protein struktural meliputi kapsul protein yang kaya arginine dan lysine, tersusun dari non glucose protein M, protein yang dibuat dari prekursor glukosilat pada saat akhir maturasi virus. Sebagian besar struktur selubung protein berperan dalam fungsi utama biologik dari partikel virus seperti menarik sel (cell tropism), mengkatalisator fusi membran yang asam, menginduksi uji hambatan aglutinasi, menetralisir dan melindungi terhadap antibodi. Virus DEN relatif labil terhadap suhu dan faktor kimiawi serta masa viremia yang pendek, sehingga keberhasilan isolasi bergantung kecepatan dan ketepatan pengambilan sampel (Soegijanto, 2004).
Virus Dengue mempunyai 10,5 kb genom viral panjang yang terdiri dari mRNA positif yang diorganisasi di dalam single open reading frame (ORF) dengan gen yang mengkode protein struktural E, prM, C, dan protein non struktural NS 1, NS 2A, NS 2B, NS 3, NS 4A, NS 4B, dan NS 5 (Kitayapon, 1994). Genom virus tertutup di dalam kapsid yang terdiri dari protein core (C) single. Protein struktural dan non-struktural yang dapat diidentifikasi dengan celah proteolitik dari poliprotein yang dikode oleh ORF. Protein struktural dikode oleh 5’ sepertiga dari ORF dan sisanya mengkode protein nonstruktural (Beasley, 1994). Struktur Protein Virus Dengue dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Struktur Protein Virus Dengue

Virus Dengue mempunyai dua macam protein yaitu protein struktural dan protein non-struktural. Protein struktural terdiri dari protein E, protein M, dan protein C, sedangkan protein non struktural terdiri dari tujuh protein NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A, NS4B, dan NS5 (Bumi dkk., 2004). Protein nonstrukutral tidak mempunyai kaitan dengan berat ringannya demam berdarah Dengue.
Reaksi antigenik pada sel atau molekul protein terletak pada bagian yang langsung kontak dengan molekul antibodi yang dikenal dengan antigenic determinant atau epitop. Rangsangan terhadap pembentukan antibodi tiap protein berbeda, dengan urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, protein prM, dan C (Soetjipto dkk, 2000). Protein non struktural yang paling berperan dalam menimbulkan antibodi adalah protein NS 1 (Tung et al., 1995). Pemeriksaan antibodi dengan teknik antigenitas menunjukkan bahwa antibodi penderita 100% bereaksi dengan protein E, 98,8% dengan protein C, dan prM, 97,0% dengan protein prM, dan 54,9% dengan protein C (Ngo, Thoe and Ling, 1996).
Distribusi protein yang paling tinggi adalah protein  E (envelope protein) diikuti oleh C-prM-M dan prM (premembran) dan sebagian protein non struktural seperti NS 1 dan NS 3. Protein E berperan penting dalam virulensi virus Dengue. Protein E adalah protein envelope utama dari virion yang diyakini memegang peranan penting dalam perangkaian virion, ikatan reseptor, penggabungan membran, dan target utama untuk antibodi netralisasi. Protein E dengan berat 50-55 kD mempunyai epitop netralisasi multipel yang terlibat dalam penggabungan pada membran virus dan dalam pengikatan pada molekul reseptor sel. Secara alami protein ini mempunyai sususnan pepetida overlapping yang memungkinkan dapat mengenali semua strain virus Dengue.
Protein E memiliki berat molekul 52 kD mempunyai fungsi yang cukup dominan sebagai induksi antibodi (Chen, et al., 1997). Protein E juga berfungsi sebagai attachment pada permukaan membran sel. Protein E merupakan mayoritas dari mantel protein virus yang berperan penting dan berdifusi sebagai reseptor pengikat membran sel tuan rumah (virion assembly receptobinding), kemudian penetrasi sel (membrane fusion) dan merupakan sasaran antibodi tuan rumah untuk dinetralisasi (target of neutralization antibodies) dan mengandung 6 ikatan disulfida yang berfungsi memproses glikosilasi. Glycosaminoglican adalah salah satu produk dari glikosilasi yang berperan penting dalam menentukan intensitas infeksi virus Dengue yang imunogenik kuat, baik kekebalan humoral maupun seluler protektif (Anderson, et al., 1992; Chen , et al., 1997; Staropoli, et al., 1997).
Protein prM, dengan berat 35 kD adalah prekursor glikosilasi dari protein M. PrM pecah ke bentuk protein M dan N-terminal segmen yang disekresi ke dalam medium ekstraseluler. Pemecahan ini terjadi secara singkat sebelum atau bersamaan dengan pelepasan virion karena prM dan M ditemukan pada virion intraseluler dan ekstraseluler (Sittisombut, 1994). Protein prM terbanyak dijumpai pada virus yang belum dibebaskan sehingga lebih dikenal dengan protein intraseluler, sedangkan protein yang ekstraseluler dikenal dengan protein M (membrane), walaupun terkadang pada situasi yang ekstraseluler masih dijumpai protein prM (Depress et al., 1993). Antibodi terhadap prM dapat membuat imunitas yang protektif mungkin oleh netralisasi pelepasan virion yang berisi beberapa prM yang tidak pecah. Protein prM yang tidak pecah akan menstabilisaasi protein E dalam bentuk homodimer sehingga mengurangi inefektivitasnya. Struktur genom virus Dengue selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.


Gambar 3. Struktur Genomik Protein Virus Dengue

Protein C memiliki berat molekul 27,5 kD. Protein C dalam bentuk virion mempunyai daya imunogenitas paling rendah diantara protein struktural tetapi dalam bentuk anchored dengan protein prM (C-prM) daya imunogenitasnya menjadi lebih tinggi (Sittisombut, 1994; Chen et al., 1997).
NS 1 adalah protein nonstruktur 1, merupakan glukoprotein yang berfungsi dalam siklus kehidupan virus yang belum jelas diketahui (Soegijanto, 2004). Protein NS 1 dengan berat molekul 39 kD bersifat imunogenikterletak di dalam sitoplasma dan permukaan membran sel dan disekresi olah sel mamalia yang terinfeksi. NS1 dideteksi dengan kadar tinggi pada penderita infeksi virus Dengue dengan reaksi imun sekunder, tetapi jarang dijumpai pada penderita yang menunjukkan reaksi imun primer (Halstead et al., 2002). Protein NS 1 bersifat imunogenik dan mampu melindungi mencit dari uji tantang dengan virus homolog (Sittisombut, 1994). Protein NS 1 mempunyai sifat imunogenik yang tinggi dibandingkan dengan protein nonstruktual lain meskipun belum banyak diketahui fungsinya. Bentuk dimer NS1 lebih baik daripada bentuk monomer dalam menghasilkan antibodi protektif. Henchal dan Putnak (1990) menunjukkan bahwa antibodi terhadap NS 1 mampu mengenali epitop pada bagian ujung N dan C terminal dari protein sehingga berkemampuan untuk menetralisir pertumbuhan virus. Penggunaan antibodi monoklonal anti-NS 1 secara pasif mencegah infeksi virus Dengue pada mencit (Beasley, 1994).
NS 2 memiliki dua protein (NS2A dan NS2B) yang berperan pada kompleks replikasi membran RNA (Halstead et al., 2002). Protein NS 2A dengan berat molekul 24 kDa diperlukan untuk proses proteolitik C-terminal dari protein NS 1, sedangkan protein NS 2B diperlukan pada proses pemecahan NS 2A/NS 2B, NS 2B/NS 3, NS 3/NS 4A dan NS 4A/NS 5 yang diperantarai oleh domain protease dari protein NS 3. Sementara itu fungsi dari protein NS 4A (16 kD) dan NS 4B (26 kD) tidak diketahui, tetapi diperlukan untuk menghubungkan membran dari NS 3 dan NS 5 selama sintesis (Sittisombut, 1994).
Protein NS 3 merupakan protein non struktural terbesar kedua dan berlokasi di dalam sitoplasma yang berhubungan dengan membran. Protein NS 3 dengan berat molekul 69 kD merupakan enzim polipeptida multifungsional yang diperlukan dalam proses replikasi virus (Teo and Wright, 1997).
Protein NS 5 adalah protein non struktural yang memiliki berat molekul terbesar. NS5 memiliki berat molekul 105.000 dan merupakan petanda protein Flavivirus (Halstead et al., 2002). Protein NS 5 didapatkan di dalam sitoplasma sel yang terinfeksi dan keberadaannya sangat tergantung pada RNA dependent RNA polymerase (Chambers et al., 1990).
Pada protein nonstruktural, kemampuan membentuk antibodi tertinggi adalah protein NS 1 diikuti NS 3, sedangkan protein NS 5 terbukti tidak ammpu membentuk antibodi (Soetjipto et al., 2000).Protein non struktural pada umumnya diperklukan untuk sintesis RNA viral, modifikasi protein dan maturasi virion. Protein NS 3 dan NS 5 dapat merangsang imunitas humoral meskipun pengaruhnya sangat kecil bila dibandingkan protein NS1 (Cardosa, 1998).   


Rabu, 08 September 2010

KEGUNAAN KLINIK TOMOR MARKER PADA KEGANASAN


Andi Cahyadi

Petanda tumor (tumor marker) merupakan komponen biologis yang diproduksi oleh sel tumor atau berhubungan (associated) dengan proses keganasan. Didapatkan di darah atau jaringan dan penentuannya bermanfaat untuk diagnostik ataupun penatalaksanaan klinik. Pada umumnya tumor marker merupakan molekul glikoprotein larut darah dan dapat dideteksi menggunakan antibodi monoklonal. Setiap tumor marker memiliki profil yang berbeda. Petanda tumor dapat dideteksi melalui serum penderita atau melalui spesimen jaringan tumornya secara radioimmunoassai, immunoradiometric assay dan enzyme-linked immunosorbent. Pendeteksian melalui spesimen jaringan tumornya adalah melalui pemeriksaan imunohistokimia dan FISH.

Petanda Tumor pada Karsinoma Bronkogenik
Walaupun pemeriksaan tumor marker telah sedemikian canggih, untuk screening masih belum bisa menggeser foto thorak dan sitologi sputum. Praktis saat ini hanya ada 3 petanda tumor yang sering digunakan pada karsinoma bronkogenik yaitu terbanyak CEA, menyusul NSE dan yang akhir ini banyak disinggung di kepustakaan, namun di Indonesia belum lazim adalah CYFRA 21-1.
            CEA tergolong antigen onkofetal, yang dibentuk fetus sampai usia janin 2-6 bulan. Selanjutnya, kadar CEA menurun hingga <2,5 ng/ml, serta tidak pernah meningkat lagi secara berarti, kecuali pada perokok dan kehamilan. Peningkatan >2,5 ng/ml pada bukan perokok, serta >5 ng/ml pada perokok, didapatkan pada 60% kasus karsinoma bronkogenik. Peningkatan CEA di atas 20 ng/ml pasca bedah atau >6,5 ng/ml pada pemeriksaan serial dengan interval 6 minggu merupakan pertanda terjadinya kekambuhan atau metastasis.
            Sedangkan untuk NSE, pengunaannya terutama dipusatkan untuk neuroblastoma dan karsinoma paru jenis sel kecil. NSE bisa memberikan informasi tingkatan penyakit, prognosis dan respon terhadap kemoterapi. Seperti halnya NSE, CYFRA 21-1 bisa memprediksi keberhasilan kemoterapi pada karsinoma bronkus jenis bukan sel kecil stadium lanjut. Penurunan kadar >27% setelah siklus kemoterapi dihubungkan dengan peningkatan keberhasilan terapi.
            Pemeriksaan tumor marker lain untuk karsinoma bronkogenik adalah hCG, human Plasental Lactogen (hPL), ACTH, MSH, PTH, ADH, human Growth Hormone (hGH), prolaktik, serotonin, insulin, AFP, plasental alkaline phosphatase (PAP), polyamine, Histaminase dan erytropoetin. Tetapi kesemua pemeriksaan tersebut belum direkomendasikan.

Petanda Tumor Ginekologi
Ada 4 substansi petanda tumor di bidang ginekologi yaitu antigen (AFP dan CEA), hormon (hCG), enzim (LDH) dan bahan lain misalnya glikoprotein yang terutama terdapat di permukaan sel (CA-125, CA 72-4 dan SCC).
            Pada penyakit trofoblas gestasi (Chorio ca), pengukuran kadar b-hCG sangat baik untuk diagnostik dan evaluasi terapi. Bila satu macam kemoterapi tidak menurunkan kadar b-hCG maka harus difikirkan untuk mengganti dengan kemoterapi lain untuk mencegah resistensi. Perlu diingat bahwa b-hCG juga meningkat pada kehamilan intrauteri maupun kehamilan ektopik serta penyakit tropoblas non gestasi.
            Petanda tumor terpenting dalam kanker ovarium adalah CA 125 disamping jenis lain seperti CA 19-9, CA 72-4, CEA, AFP, estradiol dan Alpha inhibin.
            Pada kanker ovarium epitel, 80% CA 125 meningkat secara bermakna 12-18 bulan sebelum gejala/deteksi klinis dilakukan. Sensitivitas pemeriksaan sebesar 60% sehingga perlu dilakukan pemeriksaan serial serta digabung dengan pencitraan ultrasonografi. Untuk KOE jenis musinus diperlukan pemeriksaan CA 19-9. Sedangkan untuk kanker sel granulosa ovarium diperlukan pemeriksaan alpha inhibin yang bermanfaat pada pre pubertas dan menopause.
Pada kanker servik, pemeriksaan pap smear masil lebih baik daripada tumor marker. SCC digunakan pada kanker cervix jenis epidermoid. Bila bersamaan dengan pap smear yang negatif, perlu diperhitungkan adanya suatu kekambuhan sistemik. CEA diperlukan untuk kanker cervix jenis Adeno ca.

Pertanda Kanker Payudara
Beberapa petanda tumor (CA 15-3, CEA dan CA 27-29) lebih dimaksudkan untuk menilai progresifitas dan indikator residif yang asimptomatik. Meskipun tidak bisa digunakan secara tunggal tetapi harus ditafsirkan secara hati-hati. Petanda kanker payudara yang sering dipelajari adalah CEA, CA 15-3, CA 27-29, MSA, ER, PgR, HER2, c-erB-2, Cathepsin-D dan p53 lebih dimaksudkan untuk menilai prognosis dan pemilihan cara terapi.

Tumor marker
Primari Cancer Site
Secondary Cancer Site (>50%)
False Positive
Benighn Diseases Detected
Normal Value
Antidiuretic Hormone (ADH)
Small cell lung ca, adeno ca

Inapropriate secretion associated with pneumonia
Porphyria-a group disorder
1-5 pg/ml
Alpha-feto- protein (AFP)
Liver, germ cell cancer
Stomach
Pregnancy
Cirhosis, hepatitis, toxic liver injury, inflammation bowel diseases
0-6,4 IU/ml in men/ non pregnancy
Baldder tumor antigen (BTA)
Bladder

Recent invasive proc., G.U.tr.inf., ca kidney

Non detected
CA 15-3
(carbohydrate antigen 15-3)
Breast
Often not elevated in early stage

Benign breast and liver tumor
<31 IU/ml
CA 19-9
Pancreas, colorectal


Pancreatitis, hepatitis, COPD, lung inf., inflammation bowel dis., Biliary obstruction
< 33 U/ml
CA 125
Ovarian
Breast, colorectal, uterus, cervix, pancreas, liver, lung
Pregnancy, menstruation
Endometriosis, ovarian cysts, fibroid, cirrhosis, peritonitis, pancreatitis, pleural effution, PID
0-35 U/ml
Calcitonin
Thyroid medullary carcinoma
Ectopic calcitonin production tumor


Basal: ≤0,1555 ng/ml (men)
≤0,105 ng/ml (women)
CEA (carcino embryonic antigen)
Colon
Kidney, thyroid, liver, lymphoma. Lung, stomach, melanoma, bladder, ovary, cervix, breast, pancreas
Cigarette smoking (5% population > normal value)
Pancreatitis, hepatitis, COPD, lung infection, inflammatory bowel diseases, billiary obstruction
<3 ng/ml (non smoker)
<5 ng/ml (smoker)
Creatin kinase (CK)
Breast, ovary, colon, prostate


Renal failure, bowel infarct., stroke
40-200 u/l (men)
35-150 u/l (women)
hCG (human chorionic gonadotropin)
Throphoblastic diseases, chorio ca
Germ cell tumor
Pregnancy, marijuana, testicular failure
Duodenal ulcer, cirrosis, inflammatory bowel diseases, benign breast tumor, lung, pancreas, ovary, GI ca
>31 IU/ml
HER2neu (cerbB2)
Breast



No normal
LDH (lactic dehydrogenase)
Lymphoma, seminoma, acute leukemia, metastatic ca


Hepatitis, myocardial infraction
100-200 u/l
NSE (neuron specific enolase)
Neuroblastoma, small cell lung ca



<13 ng/ml
NMP 22
Bladder

Recent invasive proc., chemotherapy, GU tractus inf., benign GU diseases, renal and bladder stone

<10
PAP (prostatic acid phosphatase)
Metastatic prostate ca, myeloma, lung ca, osteogenic sarcoma
Testicular, leukemia and non Hodkin’s lymphoma

Prostatitis, nodular prostatic hypertrophy, gaucher’s diseases, osteoporosis, cirrosis, pulmonary emboly, hyperPTH
0,5-1,9 u/l
PSA (prostatic specific antigen)
Prostate


BPH, nodular prostatic hypertrophy, prostatitis
<4 ng/ml

Berbagai kelompok internasional pada umunya menganjurkan penggunaan AFP, hCG, LDH untuk germ cell tumor dan CEA untuk kanker kolorektal. Panduan lain adalah pengukuran reseptor enstrogen dan reseptor progesteron, ekspresi berlebihan dari HER-2, CA 15-3 dan BR27.29, dan CEA untuk kanker payudara. CA125 digunakan untuk kanker ovarium dan jika CA125 tidak meningkat pada saat diagnosis maka dapat digunakan CEA atau CA19.9. Sedangkan AFP dan hCG digunakan untuk mengeksklus tumor germ cell pada wanita muda.
Untuk kanker prostat, PSA digunakan bersama-sama dengan DRE (Digital Rectal Examination, colok dubur), juga persentase PSA bebas dan PSA total. NSE, CYFRA21-1, CEA atau NSE digunakan untuk kanker paru. Catecholamine, vanillylmandelic acid (VMA), dan atau homovanillic acid digunakan untuk tumor neuroendokrin (pheochromocytoma, neuroblastoma). Calcitonin digunakan untuk neuroendokrin (medullary thyroid carcinoma) sedang thyroglobulin untuk kanker tiroid.
Suatu artikel (2005) menyebutkan bahwa untuk deteksi dini karsinoma hepatoseluler (HCC) yang disebabkan oleh HBV/HCV, metode yang umum digunakan adalah AFP dan ultrasonografi. Sedangkan untuk tumor marker diperlukan gabungan antara AFP dengan des-gamma-carboxy-prothrombin (DCP). Untuk penggunaan rutin pada HCC, CA125 lebih sensitif dibanding AFP walaupun kurang spesifik.

Kadar tumor marker sebaiknya diukur secara serial untuk evaluasi pengobatan. Normalisasi mengindikasikan adanya penyembuhan walaupun pada pencitraan (imaging) masih membuktikan adanya persistensi penyakit. Dalam hal ini sering tumor residualnya sudah tidak hidup.


Minggu, 05 September 2010

GANCICLOVIR FOR NEONATAL HEPATITIS CYTOMEGALOVIRUS (CMV)

Andi Cahyadi

School of Medicine, Airlangga University / dr. Soetomo Hospital Surabaya





Neonatal hepatitis CMV refers to morphology's changes in the liver of an infant <3 months of age, caused CMV, Approximately 40% of cholestasis in infants is due to neonatal hepatitis. It may cause latent or acute cholestatic or chronic hepatitis, including cirrhosis. Virus replicates in hepatocytes and cholangiocytes.



Ganciclovir is recommended as a first step antiviral for congenital CMV but it is controversial. Ganciclovir is a nucleoside analogue of guanosin than converted to ganciclovir triphosphat which inhibit viral DNA polymerases by competitive inhibiting the incorporation of deoxyguanosin triphosfat into elongating viral DNA. The intravenous administration is 5 mg/kg body weight over one hour twice daily for at least 2-3 weeks. By the end of therapy, 75% had negative CMV DNA and showed significant decreases in transaminase and bilirubin levels. Most common adverse effects include dose-dependent neutropenia and trombocitopenia.



The long-term outcome of CMV hepatitis is unpredictable and some have persistent liver injury despite ganciclovir therapy. Ganciclovir is not indicated particularly in immunocompetent cases, since most were self-limited, in case of progressive and persistent hepatitis, ganciclovir was a treatment option. Because of serious side-effects, the cost-benefit of ganciclovir should be carefully evaluated. Ganciclovir seems to be effective in progressive CMV hepatitis, large multi center randomized studies are necessary to determine the efficacy and indications.





Structure Cytomegalovirus




Structure ganciclovir 

POTENSI GB VIRUS C (GBV-C) SEBAGAI ALTERNATIF TERAPI BIOLOGIS DALAM MENGHAMBAT PROGRESIFITAS HIV/AIDS

Andi Cahyadi, Ferry Efendi, Faisal Hudayana
Fakultas Kedoteran Universitas Airlangga 2005

Perjalanan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat bervariasi antara orang yang satu dengan yang lainnya dan belum sepenuhnya dimengerti. Faktor imunologis dan virologis telah diketahui berhubungan dengan progresifitas HIV tetapi survival penderita untuk jangka panjang masih sulit dipertahankan. GB Virus C (GBV-C) dan Virus Hepatitis G adalah virus yang sama dari isolat yang berbeda, bereplikasi di limfosit, serta berhubungan dengan penurunan resiko kematian pada penderita HIV positif. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa penderita dengan HIV yang koinfeksi dengan GBV-C menunjukkan perlambatan progresifitas HIV/AIDS.

Mekanisme perlindungan dari efek yang ada dapat diidentifikasi dari sejumlah kemungkinan. GBV-C diduga sangat bermanfaat pada infeksi HIV dengan mekanisme yang terkait normalisasi waktu paruh (half life) sel T CD4+ serta penurunan kadar virus (viral load) HIV dengan cara menghambat replikasi virus tanpa menyebabkan kerusakan sel. GBV-C berkorelasi positif terhadap peningkatan jumlah sel T CD4+. Hal yang menarik adalah kadar GBV-C darah justru meningkat pada penderita HIV yang mendapat pengobatan antiretrovirus.




        Gambar 1. Struktur HIV (Tillman, 2001)

Perubahan pada profil sitokin penderita yang terinfeksi ganda GBV-C dan HIV ditunjukkan dengan peningkatan kadar sitokin Th1 (T helper 1) salah satunya adalah interleukin 2 (IL-2). Penderita HIV akan mengalami beberapa fase diantaranya fase akut, asimptom dan fase krisis atau AIDS. Pada saat penderita HIV memasuki fase AIDS dan hanya terinfeksi HIV, terjadi peningkatan kadar sitokin Th2 (T helper 2) yaitu IL-4 dan IL-10 dan terjadi penurunan kadar sitokin Th1. Perubahan respon sel T helper menjadi kunci pada perjalanan AIDS pada penderita yang terinfeksi HIV. Peningkatan sitokin Th2 secara gradual dibandingkan dengan sitokin Th1 pada penderita HIV diasosiasikan dengan terjadinya AIDS. Ketahanan sitokin T helper pada penderita yang terinfeksi HIV dan GBV-C bertanggungjawab pada mekanisme respon imun protektif pada koinfeksi ini.

Replikasi HIV dihambat secara langsung dan tidak langsung oleh GBV-C yang didukung fakta HIV dan GBV-C dapat menginfeksi dan bereplikasi dalam sel tropism (sel sasaran utama) yang sama, sehingga terjadi interaksi dalam siklus hidupnya. Berbagai tahap siklus hidup HIV dipengaruhi GBV-C mulai tahap pengikatan HIV ke sel target melalui reseptor CD4+ dan koreseptor (chemokine), internalisasi, reverse transcription dan integrasi ke dalam genom sel untuk membentuk provirus HIV, transkripsi dan translasi virus serta pembelahan dan pembentukan (morphogenesis) HIV.

GBV-C dapat memblok masuknya HIV ke dalam target seluler yang penting, misalnya limfosit T CD4+ dan makrofag. Di dalam kultur sel, protein envelope E2 GBV-C menurunkan masuknya HIV melalui penurunan regulasi koreseptor kemokin 5 (downregulation chemokin coreceptor 5/ CCR5) HIV. Downregulation ini tampak dengan hasil dari ikatan langsung E2 GBV-C dalam CD81 pada CCR5, peningkatan betachemokin terutama RANTES (regulated upon activation normal T-cell expressed and secreted) pada penderita dengan infeksi ganda. RANTES mengikat CCR5 dan kemudian dapat memblok masuknya virus secara langsung atau dapat bekerja walaupun sudah terjadi downregulation dari CCR5.





Perjalanan klinis infeksi GBV-C ini sangat unik. Dengan mekanisme yang belum seluruhnya diketahui, GBV-C mampu terbebas dari respon imun di dalam tubuh manusia. Beberapa bukti yang mendukung pernyataan tersebut adalah pertama, GBV-C mampu bertahan lama dalam tubuh manusia sampai lebih dari 15 tahun. Kedua, selama RNA GBV-C positif, dalam darah manusia tidak ditemukan adanya antibodi terhadap GBV-C. Begitu juga sebaliknya setelah seseorang bebas dari infeksi GBV-C (tidak dijumpai RNA GBV-C dalam darah) barulah muncul antibodi terhadap protein E2 GBV-C. Ketiga, GBV-C merupkan low density particle sehingga mempunyai daya immunogenitas yang rendah.



Mekanisme penghambatan GBV-C terhadap HIV
                                                                     (Roger and Nunnari, 2004)
 
Beberapa alternatif penggunaan GBV-C sebagai terapi biologis adalah GBV-C diberikan dalam bentuk vaksin, baik sebagai vaksin hidup, dilemahkan, mati maupun fraksi komponen protein. Tetapi mengingat mekanisme kerja GBV-C dalam menghambat progresifitas HIV, vaksin yang berasal dari GBV-C hidup yang tidak dilemahkan nampaknya lebih cocok karena dapat menghambat progresiftas HIV dengan berbagai cara sesuai dengan yang diterangkan di atas. Pemberian virus ini diharapkan tidak berbahaya, karena sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan virus ini menyebabkan penyakit serius pada manusia, kecuali bila bersama infeksi hepatitis B. GBV-C masih belum direkomendasikan WHO sebagai pilar terapi HIV, namun mengingat akan manfaat dari GBV-C dalam menghambat progresifitas HIV, maka perlu dipertimbangkan pemanfaatan GBV-C sebagai terapi adjuvan terhadap terapi antiretrovirus.

Untuk menjamin kontinuitas terapi biologis GBV-C dalam menghambat progresifitas HIV/AIDS maka diperlukan media budidaya GBV-C yang tepat. Sampai saat ini belum banyak media budidaya untuk GBV-C, namun telah diketahui bahwa GBV-C dapat diinokulasikan pada beberapa primata, yaitu simpanse, tamarin dan macaca. Keuntungan cara ini adalah hewan primata merupakan hewan yang secara anatomi fisiologi cukup dekat dengan manusia sehingga GBV-C dapat hidup seperti layaknya dalam tubuh manusia. Keuntungan yang dapat diharapkan pada pengembangbiakkan GBV-C di dalam tubuh hewan primata adalah biaya yang diperlukan relatif murah.

Pengembangbiakkan GBV-C dalam skala industri dapat dilakukan pada sel ginjal kera atau vero cells. Sel ginjal kera yang komersial digunakan untuk kultur virus dalam jumlah besar. Sel ginjal kera tersebut merupakan sel immortal dan virus dapat cepat berkembangbiak. Sehingga diharapkan dengan cara ini, kebutuhan akan GBV-C dalam jumlah banyak akan dapat terpenuhi dan tidak ditemui kesulitan-kesulitan seperti pada pengembangbiakkan GBV-C pada primata.

Sabtu, 04 September 2010

PEMBUATAN AGAROSE DARI AGAR PASAR (Gracilaria sp.) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI AGAROSE IMPOR UNTUK GEL ELEKTROFORESIS DNA


Rasmono, M. Firmansyah, Andi Cahyadi, Nur Nailul, Retno Wahyuni
Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia


ABSTRAKSI: Latar Belakang:  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan agar pasar (Gracilaria sp.) yang dapat digunakan sebagai pengganti agarose impor, untuk itu diperlukn uji kemampuan daya pisah dan penjalanan fragmen DNA pada elektroforesis DNA menggunakan agar pasar  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental komparatif dengan menguji daya pisah fragmen DNA oleh agarose dari agar pasar pada konsentrasi 0,5%, 1,0%, 1,5% dan 2,0% dalam larutan TBE Buffer. Variabel yang diukur adalah daya pisah dan penjalanan fragmen DNA pada hasil elektroforesis. Hasil: Pada semua konsentrasi terjadi pemisahan dan penjalanan fragmen DNA. Konsentrasi 2% menunjukkan tingkat pemisahan terbaik. Kesimpulan: Agarose dari agar pasar (Gracilaria sp.) dapat memisahkan dan mejalankan fragmen DNA pada elektroforesis DNA pada semua konsentrasi yang diuji.

Kata Kunci :  Agarose dari agar pasar (Gracilaria sp.), pemisahan, fragmen DNA, elektroforesis DNA

Kamis, 02 September 2010